Main Menu

Fri, Sep 10, 2010 | 22:10 CEST
SmartSection is developed by The SmartFactory (http://www.smartfactory.ca), a division of INBOX Solutions (http://inboxinternational.com)
Dokumen > Kesaksian > Kisah Tutur Penguak Kebenaran
Kisah Tutur Penguak Kebenaran
Published by MiRa on 19/Oct/2008 (1125 reads)

Kisah Tutur Penguak Kebenaran

Benaeng Ulunati 25-02-07 19:27

Foto : Benaeng UlunatiSyair lagu Genjer-Genjer tak lagi akrab di telinga kita saat ini. Lagu rakyat Banyuwangi yang menggambarkan penderitaan kaum miskin saat menyiasati kelaparan di masa pendudukan Jepang itu memang sangat menyentuh. Diaransemen ulang oleh seniman M Arief dan dinyanyikan oleh Bing Slamet, siapa pun hapal luar kepala syair lagu ini. Itu terjadi pada tahun 1960 an.

Tapi pasca peristiwa 1 Oktober 1965, syair Genjer-genjer digubah menjadi sebuah lagu pembantaian yang seolah disiapkan oleh para perempuan simpatisan dan kader Partai Komunis Indonesia. Sumilah salah satu korbannya. Padahal ia korban salah ambil karena ada dua nama Sumilah. Satu dari Brosot, satu lagi dari Bokoharjo. Meski kesalahan ini sudah diketahui, tapi tetap saja siksa terus ia jalani. Jadilah ia menghabiskan 14 lamanya di penjara, sementara Sumilah satunya empat tahun dibalik terali besi. Ia melengos ketika ditanya siksa fisik seperti apa yang dideranya.

Lain lagi cerita Mukinem. Pabrik Gula Gondang Baru di Jalan Raya Yogya – Solo menyimpan kisah pahitnya. Di tempat inilah siksa ia jalani sepanjang waktu. Kesadarannya timbul tenggelam. Usai disiksa hingga tak sadarkan diri, dibiarkan dalam bak bekas garam tanpa makan dan minum selama berhari-hari, kembali ia digelandang ke dalam kamar sempit. Percobaan pemerkosaan pun ia terima. Penyiksaan yang berkepanjangan ini membuatnya mengalami menstruasi terus menerus selama empat bulan. Delapan puluh laki-laki yang bersamanya dalam ruang tahanan itulah yang bergantian membuatkannya pembalut dari kain atau dari kaos mereka. Siksa ini pulalah yang membuatnya tidak mungkin mempunyai anak dari rahimnya sendiri.

Sumilah, Mukinem, Umi Sardjono, Kartinah, Sudjinah dan Sutarni Nyoto adalah sederet nama yang menghiasi buku Kembang-kembang Genjer karya Fransiska Ria Susanti ini. Sebagai seorang jurnalis, kerja kerasnya mewawancarai perempuan-perempuan korban ini, menjadi kisah yang mengalir dalam tulisannya.

Penelusurannya untuk mewawancarai perempuan-perempuan itu pun di lakukan dengan menyusur dari kota ke kota, desa ke desa, tempat para pelaku sejarah itu bermukim saat ini. Sebagian hasilnya dimuat di Sinar Harapan, tempatnya bekerja sebagai seorang wartawati.

“Mungkin saya subjektif ketika menuliskan kisah tutur mereka ini. Sebagai seorang jurnalis, obyektivitas itu sebuah metode,” ujar Santi. Baginya, kisah tutur perempuan-perempuan adalah kebenaran sejarah yang perlu didokumentasikan. “Banyak orang di luar sana yang ingin tahu sejarah yang sebenarnya,” tambahnya.

Meskipun tidak ingin menggambarkan kekejian yang dialami perempua-perempuan korban yang sebagian besar pengurus pusat Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), tetapi bagian buruk sejarah ini tidak mungkin dinafikkan begitu saja. Rata-rata mereka ditahan selama 14 tahun tanpa prosedur hukum. Terpisah dari suami, kekasih bahkan anak-anak mereka. Padahal, tadinya Gerwani adalah organisasi terkuat dan termasyhur pada waktu itu. Keberadaan organisasi tersebut legal.

Dengan cara bertutur ini, perempuan korban ini berharap, setidaknya pada masa terntentu di kemudian hari, kebenaran dapat terungkap. Kendati kebenaran belum sepenuhnya terungkap, setidaknya dari buku Kembang-kembang Genjer kita mengetahui kebohongan pada saat itu.

Usia mereka kini tak lagi muda. Berkisar antara 70 hingga 80 tahun. Sejarah lisan telah membuka kesempatan untuk menguak penderitaan mereka selama tiga dasa warsa pemerintahan Orde Baru. Rezim ini telah menghancurkan gerakan perempuan militan bahkan menyiksa mereka selama bertahun-tahun dan melabelkan stigma buruk.

Bimo Baskoro, cucu dari Nyoto merindukan untuk segera sampai di kelas tiga, ketika memasuki usai sekolah dasar. Ia ingin bertanya tentang kebenaran tentang kakeknya. “Ia memanggil kakeknya dengan Bung dan selalu bertanya kapan pelajaran di sekolahnya akan sampai pada kisah Bung Nyoto,” ujar Svetlana, putri pertama Nyoto.

Bagi Bimo, kakeknya adalah orang besar. Svetlana pun tak perlu lagi menyembunyikan nama Rusianya. Svetlana yang berarti cahaya, kembali dipakainya setelah selama sepuluh tahun namanya tak pernah ia pakai nama itu ketika ibunya, Sutarni Nyoto, dipenjara. Itu dilakukannya untuk melindungi orang-orang yang merawatnya.

Meskipun mengetengahkan banyak tokoh penting yang mau bertutur tentang penderitaan mereka, cukupkah tutur ini menjadi pembenaran sejarah? Tuturan ini memang bukan dimaksudkan untuk itu. Tetapi dari tutur yang terucap, Saskia Wieringa mengatakan, paling tidak kita tahu bahwa ada kebohongan yang terjadi pada waktu itu.

Harusnya ada lebih banyak kisah tutur yang bisa dirangkai karena masing-masing perempuan mempunyai cara untuk berdamai dengan peristiwa buruk dan masa lalunya. Tetapi adilkah sekarang, bila mereka juga harus berdamai dengan negara yang tetap abai terhadap mereka? Atau akankah Bimo tetap tidak mendapat jawab dari tanya yang ada dalam benak kecilnya tentang Bung Nyoto nya?

Sumber:

http://www.halamansatu.net/index.php? ... &id=395&Itemid=51


Navigate through the articles
Previous article The Indonesian Massacres and the CIA by Ralph McGehee Serpihan Sejarah Th65 yang Terlupakan Oleh Prof. Dr. W.F. Wertheim Next article
Anda harus Login untuk kirim komentar. Komentar adalah milik pengirimnya.
Pengirim Urutan

Search

Login

Nama Anggota:

Kata Sandi:

Remember me



Lost Password?

Register now!