| Njoto: Politik Itu Penting Sekali. Jika Kita Menghindarinya, Kita Akan Digilas Mati Olehnya. | for everyone |
Pembebasan Online, Selasa, 26 September 2006
Semua menteri segera bergegas ke
***
Njoto adalah satu dari banyak nama yang muncul saat kita membaca atau menelusuri literature dan jejak sejarah gerakan komunis di
Njoto anak tertua (satu-satunya lelaki) dari 3 bersaudara. Dilahirkan di Bondowoso, 17 Januari 1927; menikahi Soetarni (kelahiran Solo, 10 Juni 1928) yang berasal dari keluarga ningrat Mangkunegaran pada tahun 1955; dan punya 7 anak. Anak pertama, Svetlana, baru berumur 9 tahun saat pecah tragedi 1965 sementara anak terkecil masih dalam kandungan dan baru lahir pada Juli 1966. Njoto sendiri "hilang tanpa jejak" sejak 16 Desember 1965. Istri Njoto dan ke-7 anaknya sempat ditahan di salah satu Kodim di Jakarta selama berbulan-bulan. Sekitar akhir 1966 atau awal 1967 dibebaskan dari Kodim, tapi pertengahan 1969 kembali ditangkap dan ditahan dari satu penjara ke penjara lainnya: Wonogiri, Semarang, Jakarta (Bukit Duri), dan terakhir di Plantungan, Jawa Tengah.
Njoto tidak hanya dikenal sebagai salah satu dari Tiga Serangkai orang-orang muda yang memimpin Partai Komunis
Saat terjadi polemik mengenai Soekarnoisme antara Merdeka melawan Harian Rakjat (Koran resmi PKI), Njotolah yang menulis seluruh polemik itu dengan cemerlang.
Kekuatan lain seorang Njoto adalah dayanya dalam melihat sisi baik seseorang. Pernah ia menyelamatkan Ernest Hemingway dari kutukan
Sekitar tahun 1950, para pelukis dan penulis kiri bertemu dengan Njoto. Mereka berdiskusi tentang peranan seni dalam perjuangan kelas. Njoto menganjurkan perpaduan antara tradisi besar realisme kritis dan romantisme untuk membuat kesenian yang menampilkan kenyataan sosial (realisme) menuju ke proses perubahan revolusioner (romantisme).
Piagam Lekra, juga Njoto yang menyusun. Dan Lekra menjadi begitu besar dan berpengaruh di bidang kebudayaan! Selama kurun waktu 15 tahun (1950-1965), Lekra telah menorehkan sejarah kebudayaan di
Njoto dengan begitu mempunyai daya tarik sendiri bagi kalangan intelektual dan pekerja seni di
Lagi, Pramoedya Ananta Toer yang pernah mendapat perlakuan sangat buruk oleh militer: semua kertas kerja, naskah-naskah karya, juga perpustakaannya dihancurkan massa yang menyerbu, merampok apa saja yang ada sampai-sampai pohon mangga yang sedang sarat berbuah digoncang buahnya, bahkan tak ada satu cangkir atau piring tersisa; dan rumah Pram pun tinggal bolongan kosong blong, pun menyatakan: “Jangan dikira ada perasaan dendam pada saya; tidak. Justru yang teringat adalah satu kalimat dari Njoto: “Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita cukup rendah dan memprihatinkan, kita perlu meningkatkannya”. Ia juga teringat pada kata-kata Njoto yang lain: “Kalau kau mendapatkan kebiadaban, jangan beri kebiadaban balik, kalau mampu, beri dia keadilan sebagai belasan.”
Jauh sebelum dikenal sebagai tokoh PKI, Njoto juga dikenal sebagai seorang seniman musik. Tidak jarang ia mengisi acara musik lepas senja di studio RRI bersama Adikarso dan Bing Slamet. Ia pun ikut terlibat dalam pembicaraan tentang Genjer-Genjer. Naluri musikalitas Njoto terucap dalam kata-kata yang bernada meramal: “Lagu ini pasti akan segera meluas dan menjadi lagu nasional!” Tidak meleset memang karena sekitar setahun kemudian Genjer-Genjer telah terdengar di
Njoto dengan begitu memikat buat siapa saja. Kalau di istana negara berlangsung resepsi dan Bung Karno menutup acara dengan ber-lenso, Njoto meninggalkan para menteri yang duduk di sebelahnya dan menyelusup di antara para artis. Di tengah-tengah para penabuh alat-alat musik, dialah yang memainkan keyboard dan turut mengiringi penyanyi hebat kala itu, seperti Titiek Puspa dan Fetti Fatimah. Sebagai intelektual (Marxist), Njoto juga tak perlu diragukan. Jusuf Ishak, pendiri Hasta Mitra, memandang Njoto memiliki kelebihan dan keistimewaan tersendiri dari semua tokoh PKI yang ada. Ia adalah seorang pemikir intelektual tetapi tak pernah menunjukkan dirinya melebihi segala-galanya. Komitmennya pada semangat kerakyatan dapat dilihat dari kesederhanaan hidupnya. Pandangannya mengenai realitas tercermin dari pola-pikirnya yang mudah dipahami setiap kalangan masyarakat. Hal lain yang dikagumi Jusuf Ishak dari Njoto adalah kehebatannya dalam mengemas
Njoto juga pernah memberikan kuliah mengenai berbagai segi Marxisme di depan para siswa dan undangan di Universitas Rakyat dan Universitas
***
Njoto sebagai intelektual yang cerdas, dan juga disegani dan dikenal luas di kalangan pekerja seni jelas menunjukkan pada kita bagaimana kita para pekerja seni, budaya, ilmuwan dan intelektual pada umumnya tidak boleh melupakan kesadaran politik.
“Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan saja pun politik harus menuntun segala kegiatan kita”.
* (Data tulisan ini dikutip dari berbagai sumber)
** Tedjo Priyono: Ketua Umum pjs JAKER - Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat dan Ketua V Bidang Budaya KP PAPERNAS Pusat - Komite Persiapan Partai Persatuan Pembebasan Nasional-Pusat.
Sumber:http://perempoeanmahardhika.multiply. ... ournal?&page_start=20
| Navigate through the articles | |
G30S: INDAHNYA BEGAWAN POLITIK SOEHARTO MENIPU BANGSANYA!
|
|
|
Anda harus Login untuk kirim komentar. Komentar adalah milik pengirimnya.
|
||||||||||






